Translate

Senin, 24 Januari 2011

Yang Sempurna Hadir Melalui Yang Tidak Sempurna

(Yesaya 9:1-4, Mazmur 27:1,4-9, I Korintus 1:10-18, Matius 4:12-23)
Yesus (wujud pernyataan dari Allah yang paling konkret) mulai menyatakan diri di muka kyalayak, dan mulai berkarya. Dia sekarang berada sungguh-sungguh dalam realita dunia yang tidak selalu ramah terhadap Tuhan, tetapi disana Dia menjejakan kaki-Nya sepenuh hidup. Dia mesti menghadirkan surga di dunia ini, dalam pemahaman yang benar. Dia menghadirkan sikap Allah yang menghargai manusia, menjunjung tinggi martabatnya, meskipun seharusnya sudah hancur oleh dosa. bagi-Nya, dunia manusia bukanlah hal yang haram, dan najis sehingga harus disingkiri.
Yesus tampil di Galilea bukan di kawasan yang bergengsi, tetapi merupakan kawasan yang dicurigai dan dianggap sebagai sarang pemberontak,  selain juga yang secara streotip dianggap sebagai sarang elit, bodoh. Namun, Yesus secara bersengaja memilih orang-orang sederhana yang tulus, dengan pengakuan yang jujur tentang kehidupan lamanya yang bergelimang dosa, yang sudah mengalami pergantian atau  perubahan orientasi kehidupan, yaitu mulai dari mereka yang sudah bertobat. Orientasi atau arah kehidupannya tertuju kepada Tuhan, yang tidak lagi egosentris dalam berbagai peristiwa kehidupannya. Hal ini tercermin pada pemulihan murid-Nya nanti. Mereka adalah orang-orang yang bersahaya dengan pekerjaan kasar.
Para murid dan pengikut Yesus harus menghadirkan terang Ilahi itu dalam kehidupan konkret (di dunia). Di satu sisi kehidupan yang saleh dari para pengikut Yesus harus mampu (seperti sinar yang disorotkan ke satu sudut tertentu) manakah mode yang baik dan positif (dan oleh karena itu bisa dipahami), maupun motif yang negatif. Artinya terang dari Allah membuat orang mampu memeriksa diri (introspeksi atau mawas diri), dan melihat kehidupan saleh yang harus kita taati. amin,,

Minggu, 23 Januari 2011

Penyelamat Sudah Dekat

(Yeremia 33:14-16, Maz 25:1-10, 1Tesalonika 3:9-13, Lukas 21:25-36)
Setiap orang membutuhkan pertolongan dalam hidupnya, untuk mengahadapi berbagai pergumulan, persoalan dan tekanan hidup lainnya. Selain tindakan pertolongan yang dibutuhkan, setiap orang juga menantikan pertolongan itu datang pada waktu yang tepat. Dan masa penantian akan pertolongan, merupakan masa yang menguji pengharapan akan pertolongan itu sendiri.
Pertolongan Allah yang dinantikan oleh setiap orang percaya, seringkali diragukan kedatangan-Nya. Padahal kristus Yesus sendiri telah menyatakan diri dalam karya keselamatan yang besar, menyatakan kehadiran-Nya di tengah dunia secara umum, namun secara khusus kepada setiap pribadi manusia dalam pengalaman hidup mereka. Untuk itu dibutuhkan sikap yang benar dalam menantikan pertolongan dan kehadiran Tuhan. Mampukah kota sebagai orang percaya secara konstan memiliki sikap yang benar sambil menantikan kedatangan Allah yang kedua kali? Kehadiran yang kedua, diunkapkan Allah secara menyaluruh, bagi dunia melaui kebebasan, penyelamatan bahkan penghakiman ats umat manusia. Inilah yang sering kita sebut sebagai hari Tuhan.
Untuk ituah Yesus menegaskan kepada kita agar siap sedia dalam penantian kita. Umat Allah diminta untuk berjaga-jaga sambil berdoa agar kita memperoleh kekuatan dalam menantikan kedatangan Tuhan Allah dan kehadiran-Nya. Nasihat yesus ini menjadi bagian yang penting bagi setiap orang percaya, ditengah segala situasi kehidupan, pergumulan dan kondisi yang dimilikinya. Ada begitu banyak orang yang justru lalai ketika mereka mengalami "kepuasan di dunia ini" dengan hal yang mereka miliki. Di tengah situasi yang normal, biasa-biasa saja dan tidak memiliki pergumulan, maka pengharapan dan iman akan penantian Kristus tidaklah menjadi prioritas hidup yang utama. Sebaliknya, ketika hidup kita sedang berada dalam penderitaan dan kesusahan, maka pengharapan Tuhan merupakan yang utama. Barangkali itu sebabnya, Rasul Paulus mengatakan bawa"....Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa kristus turun menaungi aku." (2Korintus 12:9). Dengan demikian, kita dapat juga menyimpulkan bahwa penderitaan diijinkan Allah terhadap manusia-sebagaimana diijinkan datang kepada Ayub - agar manusia senantiasa menyadari bahwa hidupnya selalu membutuhkan kasih karunia Allah dan hidupnya akan bergantung kepada pengharapan yang ada pada dirinya. Amin.

Sabtu, 22 Januari 2011

Dipanggil, Dibentuk, dan Diutus

(Yesaya 49:1-7, Mazmur 40:1-11, I Korintus 1:1-9, Yohanes 1:29-42)
Karya Allah untuk menyelamatkan umat-Nya adalah karya yang agung yang telah dinyatakan oleh Allah sendiri sejak Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa. Dalam karya-Nya itu, Allah tidak "bekerja" sendiri, tetapi melibatkan manusia, sehingga dalam karya penyelamatan ini, manusia adalah objek sekaligus subjek. Oleh karena itu, Tuhan merkenan memanggil manusia untuk datang kepadanya, membentuk dan kemudian mengutusnya. Menanggapi hal ini manusia harus bersedia menyerahkan diri untuk dipakai menjadi utusan Tuhan, dan sekaligus ungkapan rasa syukur manusia atas keselamatan yang dari Tuhan. Hasil karya Tuhan dan respon manusia atas pengutusan Tuhan ini, adalah terwujudnya kehidupan bersama dalam persekutuan yang erat, dan membawa orang yang belum percaya datang kepada Yesus.
Menjadi seorang utusan Tuhan adalah sebuah panggilan yang ditujukan pada semua orang percaya tanpa kecuali. Sekalipun panggilan ini juga dapat bersifat pilihan, artinya seseorang bisa menerima dan menolaknya, namun, sikap atau respon yang benar terhadap panggilan itu, adalah kesediaan untuk menyerahkan hidup kepada kedaulatan Allah, dan menjadi alat-Nya. Respon ini sesungguhnya adalah ungkapan syukur yang konkret. Namun tidak cukup seorang utusan hanya menyatakan kesediaannya. Tahapan selanjutnya yang harus dilakukan, adalah kesediaan dibentuk oleh Tuhan seperti yang Tuhan inginkan, bukan seperti yang diinginkannya. Kemudian, Tuhan mengutusnya di dalam kehidupan masing-masing untuk memberitakan perbuatan Allah yang besar melalui kesaksian hidup yang benar.

Jumat, 21 Januari 2011

Memihak Kepada Apa Yang Tidak Dapat Digoncangkan

(Yesaya 58:9b-14, Mazmur 103:1-8, Ibrani 12:18-29, Lukas 13:10-17)

Kekuatan jemaat-jemaat Tuhan bukan berdasarkan pada kekuatan organisasi, dana dan sumber dayanya, tetapi dari Kristus yang adalah Tuhan yang tak digoncangkan oleh alam maut. karena itu gereja Tuhan tidak boleh bersandar kepada sistem organisasi dana dan kepandaian manusia yang berada di dalamnya. Mereka semua rapuh dan mudah tergoncang. Gereja Tuhan tidak beleh berpijak di atas "petros" (manusia batu karang), tetapi seharusnya berpijak kepada Kristus, sang "petra" atau kristus yang adalah batu pnjuru yang kekal. Kecenderungan untuk mengkultus-individukan seseorang atau sekelompok orang bukan hanya harus dihindari tetapi secaara sengaja harus disingkirkan. Karena itu yang utama dari spiritualitas yang berpijak kepada yang tak tergoncangkan adalah fokus hidup setiap umat yang tertuju kepada Kristus.

fokus hidup tersebut akan memampukan setiap umat untuk memahami kehadiran diri Allah yang empatis dan berbela rasa. Umat juga akan mengalami karya pemulihan Allah yang membebaskan diri mereka dari situasi "kebongkokan spiritualitas".

Selain itu kita selaku jemaat Tuhan yang berjuang di tengah-tengah dunia ini tidak boleh menyerah ketika kita dihambat untuk menyatakan karya keselamatan Allah. Sebagaimana Kristus juga dihambat oleh kepala rumah ibadat, maka gereja Tuhan juga akan mengalami penghambatan atau penolakan oleh kuasa dunia ini. sejauh kita selaku gereja Tuhan sungguh-sungguh konsisten untuk setia kepada panggilan kita menghadirkan damai sejahtera Allah ditengah kehidupan umat manusia, kita tidak boleh kecil hati atau gentar ketika kita dihambat atau dirintangi. Karena itu kita harus tahu secara persis dan obyektif apakah rintangan atau hambatan tersebutdisebabkan oleh pola pendekatan dan pola komunikasi kita yang kurang bijaksana, ataukah memang hambatan tesebut terjadi karena kita konsisten dengan nilai-nilai iman Kreisten yaitu sikap kasih sebagaimana yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Jika demikian maka seluruh jemaat Allah kini dipanggi untuk senantiasa konsisten dalam memberlakukan kasih dan keadilan dengan membela setiap orang yang tertindas dan lemah tanpa mempedulikan latar belakang suku, etnis dan agama. Sehingga dengan pelayanan, kita dimampukan untuk membebaskan sesama yang mengalami "kebongkokan rohani" dan membawa setiap orang untuk bersandar kepada Kristus yang tak tergoncangkan. Jika pangggilan ini dapat terwujud maka kita dapat menjadi jemaat yang membawa rahmat Allah dan pembebas bagi sesama kita.

Kamis, 20 Januari 2011

Sabar Dalam Penantian Syalom Yang Sesungguhnya

(Yesaya 35:1-10, Mazmur 145:5-10, Yakobus 5:7-10, Matius 11:2-11)

Dalam tema di atas ada empat kata kunci yang menjadi pemikiran, kata pertama adalah sabar (Yakobus 5:7), sebagai sikap iman yang peru milandasi kehidupan orang percayakesabaran ini dibutuhkan selagi kita masih hidup ditengah dunia yang penuh dengan penderitaan. Sebagaimana Yesus menyatakan kepada murid-murid yang di utus-Nya, seperti domba ke tengah-tengah serigala, demikian orang-orang percaya perlu menyadari akan kehadirannya di tengah-tengah dunia. Karena kesabaran merupakan salah satu bentuk dari buah roh, maka hanya dengan pertolongan roh kuduslah kita memperolehnya.
Kata kedua adalah penantian, yaitu keadaan yang sedang kita jalani dalam masa penantian kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Dalam menjalani masa inilah kita peru memiliki kesabaran, keyakinan bahwa Allah menyertai kehidupan orang percaya, sebagaimana janji-Nya dalam Matius 28:20. Kesabaran juga menuntut adanya ketekunan untuk berkarya selagi hari masih "siang". Masa penantian merupakan sebuah kesempatan yang berhargauntuk berkarya sebagai murid-murid Kristus, khusus dalam rangka memperlihatkan bayang-bayang syalom.
Kata yang ketiga adalah syalom, yaitu suatu keadaan ideal, dimana dosa tidak lagi berkuasa dan setiap hubungan terjalin secara harmonis.syalom merupakan sebuah keadaan dimana manusia berkonsoliasi dengan dirinya, dengan sesama, dengan lingkungan hidupnya, dan teristimewa dengan Allah sendiri.keadaan ini bukan hanya terjadi kelak, namun mulai dapat dirasakan sejak kita masih diberi kesempatan untuk menghidupi dunia ini. kedaan ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan sebuah kondisi ideal yang perlu diusahakan oleh orang-orang percaya yang telah mengalami penebusan.
sedangkan kata yang keempat adalah "sesungguhnya". Kata ini delatakan dalam tema dan terkait dengan kata "syalom" dengan maksut bahwa kini dan di sini, kita pun dipanggil untuk berkarya menghadirkan bayang-bayang syalom di dunia yang fana. Sedangan syalom yang sesungguhnya akan tiba saat Yesus datang kedua kalinya. Syalom bersifat abadi sekalipun kita harus tetap berkarya mengupayakan damai-sejahtera di bumi, namun tujuan kita yang sebenarnya adalah syalom yang abadi, hidup bersama Allah. Amin..

Rabu, 19 Januari 2011

Gaya Hidup Penginjilan

(I Korintus 9:19-23)


Gaya hidup penginjilan meliputi mendoakan (pray), memperhatikan (care), dan memberitakan (share) Kristus dengan kasih kepada keluarga, teman, tetangga, dan orang-orang lain yang belum mengenal kristus.

Mendoakan: "Mempersiapkan Jalan Bagi Kuasa dan Anugerah Injil"

Setiap orang percaya diperintahkan untuk mendoakan orang-orang disekitar mereka. Alkitab mendorong kita untuk "menaikan permohonan, doa syafaat, dan ucapan syukur untuk semua orang"(1 Timotius 2:1). Semua orang meliputi keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, dan teman sekelas, dll. Tuhan telah memilih untuk bekerja di dunia ini melalui doa-doa umatnya. Anugerah-Nya dicurahkan dan kuasa-Nya diarahkan melalui doa.

Memperhatikan:"Membangun Jembatan Kasih Untuk Pemberitaan Injil"

Semua orang percaya wajib memperhatikan dengan penuh kasih orang-orang dilingkungan mereka seperti Yesus memerintahkan agar mereka "mengasihi sesama manusisa seperti diri sendiri" (Matius 22:39). Membangun hubungan dengan orang-orang yang belum mengenal Yesus bukan hal yang sulit. Orang-orang sangat menyambut doa dan terbuka terhadap orang lain yang mendoakan dan memperhatikan mereka. Hubungan akan mengarahkan kepada kesempatan untuk membagikan kabar baik. Kebanyakan orang yang datang kepada Kristus datang melalui seseorang yang berhubungan dekat dengan mereka.

Memberitakan: "Memberi Pertanggungan Jawab Tentang Pengharapan Injil"

Agar diselamatkan, Setiap orang harus "mendengar" kabar baik (Roma 10:14). Kita semua ditantang Yesus untuk "menjadi saksi-Nya" (Kisah ParaRasul1:8), "pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya" (Mat 28:19) dan "siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertangguangan jawab kepada tiap-tiap orang yang memintanya"(1 Petrus 3:15). Semua perintah ini menuntut agar kita membagikan iman kita.

Mendoakan-Memperhatikan-Memberitakan: "Gaya Hidup Terang Dunia"

Setiap orang percaya adalah terang bagi dunia yang gelap. Kristus yang adalah Terang Dunia berdiam di dalam kita masing-masing. Menjadi terang dunia berarti membiarkan Kristus bersianar melalui kita. Setiap orang Kristiani sejati memiliki jalan masuk ke tahta Allah melalui Yesus Kristus, dan karenanya dapat berdoa. Setiap orang percaya yang telah di sentuh dengan perhatian dan kasih Tuhan, dapat memberi perhatian. Setiap anak Tuhan yang telah menerima anugerah Tuhan dapat memberitakan Kabar Baik. Gaya hidup penginjilan, "Mendoakan-Memperhatikan-Memberitakan", merupakan gaya hidup yang mendasar bagi semua orang percaya.

Andalan Utama Dalam Hidup

(Pengkhotbah 1:2,12-14, 2:18-23, Mazmur 49, Kolose 3:1-11, Luk 12:13-21)


Manusia membutuhkan pegangan atau andalan dalam hidupnya. Bentuknya dapat bermacam-macam. Ada yang menjadikan jabatan sebagai andalannya. Dengan jabatan itu ia memiliki pengaruh dan kuasa yang luas, sehingga apapun akan dilakukan untuk mempertahankan jabatannya. Ada juga yang mengandalkan pekerjaannya. Dengan bekerja ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga ia tidak mau diganggu oleh apapun ketika sedang melakukan pekerjaannya. Ada yang mengandalkan uang/harta bendanya. Ia merasa bahwa segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang, sehingga ia menjadikan uang segala-galanya dalam hidupnya.

Semua itu adalah contoh yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari. ada banyak hal dijadikan pegangan atau andalan dalam hidup manusia. Tetapi kita perlu merenungkan lebih dalam: apakah semua itu akan kekal sifatnya? Semua bisa menjadi sia-sia. Seperti kata pengkhotbah, segala yang ada dibawah matahari, semuanya sia-sia. Karena, baik kekuasaan/jabatan, pekerjaan atau harta benda adalah fana. Apakah yang fana itu, jika kita jadikan andalan dalam hidup kita, akan membawa keselamatan bagi kita?

Semua orang menginginkan keselamatan. Sudah pasti keselamatan tidak akan kita dapatkan dari sesuatu yang fana. Itu sebabnya Yesus memberikan peringatan kepada para pendengarnya untuk tidak mengarahkan hidup hanya kepada hal-hal duniawi, yang akan mengakibatkan orang melulu memikirkan keinginan-keinginan duniawi yang tiada habisnya.
The Adventures of Sherlock Holmes
Sigh No More
Kindle Wireless Reading Device, Wi-Fi, Graphite, 6" Display with New E Ink Pearl Technology
Star Wars: The Complete Saga (Episodes I-VI) [Blu-ray]
Always the Baker, Never the Bride

Selasa, 18 Januari 2011

Menantikan Keselamatan Dengan Damai Sejahtera Allah

(Yesaya 2:1-5; Mazmur 122; Roma 13:11-14; Matius 24: 36-44)
Pada masa kini banyak orang beranggapan bahwa umat manusia teah memasuki zaman akhir. Anggapan tersebut didasarkan pada fenomena alam yang aneh dan luar-biasa dengan ditandai berbagai bencana alam di berbagai penjuru muka bumi. apalagi banyak orang dipengaruhi hasil ramalan suku bangsa maya yang meramalkan dunia akan berakhir pada tahun 2012. Pada satu sisi Alkitab menyatakan tanda-tanda berupa bencana alam yang dasyat menjelang kedatangan Tuhan. Namun pada sisi lain, Tuhan Yesus berkata: "Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena anak manusia datang pada saat yang tidak kamu duga" (Matius 24:44). Dengan demikian kejelian dan penafsiran manusia akan berbagai kejadian alam yang kini tampak ekstrim bukan dalam rangka penentuan akhir zaman atau kedatangan Tuhan tetapi bagaimanalah manusia harus bersiakp lebih waspada dan berjaga-jaga.
Dalam memahami makna menantikan kedatangan Tuhan Yesus, kita selaku umat percaya harus memiliki titik fokus yang menjadi arah atau tujuan dari orientasi kehidupan kita. seluruh aktivitas dan pelayanan kita menjadi tidak beramakna dan menyimpang jauh, jikalau tidak terarah kepada satu tujuan yang jelas. Pada sisi lain masa penantian akan kedatangan Tuhan dapat menjadi sesuatu yang menggairahkan dan mampu membangkitkan daya semangat juang apabila kita harus terdorong untuk bergerak ke satu arah, yaitu Yesus Kristus sebagai pusat seluruh visi dan misi kita. Ketiak umat israel keluar dari tanah Mesir, mereka berjalan dipimpin oleh Allah menuju tanah terjanji, Kanaan. Sehingga tujuan utama dari peristiwakeluaran dari Mesir adalah bebasnya mereka dari perbudakan; dan dengan identitas yang baru mereka dibawa oleh Allah menuju tanah Kanaan. Namun sayang sekali, umat Israel pada waktu perjalanan di padang gurun ternyata ering tergoda untuk menyimpang dari tujuan utama yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Umat Israel waktu itu mudah menunujukan sikap bersungut-sungut kepada musa dan harun ketika mereka kesuitan memperoleh makanan dan air minum. itu sebabnya mereka ingin kembali ke tanah Mesir, yang mereka anggap berlimpah dengan makanan dan air minum walau untuk itu mereka harus menjadi budak.
Demikian juga kita selaku umat percaya pada masa kini juga sering bersikap seperti umat Israel. kita sering bersungut-sungut karena dalam mengikut Kristus ternyata kita masih menghadapi berbagai kesulitan, penderitaan dan tekanan hidup yang berat. Itu sebabnya kita sering kehilangan arah tujuan utama kita yaitu Kristus; dan kita kembali ke dunia lama yaitu perbudakan dosa yang mana kita merasa dapat melampiaskan secara bebas segala hawa nafsu dan keinginan kita. Itu sebabnya Rasul Paulus memberi nasihat kepada kita demikian: Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisiha dan iri-hati" (Roma 13:13). Dengan perkataan lain, ketika kita kehilangan tujuanutama dari hidup kita ini yaitu Kristus, maka kita akan berjalan menyimpang dari kehendak dan firman Kristus. Akibatnya kehidupan kita akan dipenuhi dengan berbagai pesta pora, kemabukan, percabulan, hawa-nafsu, perselisihan dan iri hati.

Senin, 17 Januari 2011

Cahaya Kemuliaan Tuhan di Tengah Penderitaan

(Keluaran 34:29-35, Mazmur 99, II Korintus 3:12-4:12, Lukas 9:29-34)
Menjadi orang Kristen kadangkala tidak ada terlihat keistimewaannya. banyak orang kristen yang tidak memperlihatkan sikap hidup yang berbeda dengan dunia, khususnya ketika menderita.
Kegairahan dan semangat hidup orang Kristen kadangkala tidak terlihat pada saat mereka mengalami penderitaan. Padahal sebagai pengikut Kristus seharusnya kemuliaan Allah terpancar dalam hidup kita dengan sendirinya. Sayangnya kadangkala perasaan-perasaan negativ yang ada di tengah penderitaan menutupi kemuliaan Allah.
Paulus dengan memperlihatkan kisah keluaran 34 dimana Musa menutupi cahaya kemuliaan Allah dari wajahnya sebagai bentuk dari usaha musa yang tidak ingin mengungkapkan seluruh kebenaran Allah. Selubung musa itulah yang menjadi "penghalang" bagi orang Israel untuk menerima Yesus sebagai Mesias, Hanya orang yang menerima Yesus Kristus, maka selubung tersebut telah dibukakan dan mereka dengan jelas mengakui Yesus sebagai Mesias.
Selanjutnya Paulus menyatakan bahwa penerimaan terhadap Yesus akan menghasilkan cahaya kemuliaan Yesus. Seperti Musa yang bercahaya setelah berjumpa dengan Allah, Paulus pun menyatakan bahwa orang yang menerima dan berjumpa dengan Yesus akan dipenuhi oleh cahaya Yesus. Cahaya inilah yang akan terlihat dalam diri orang tersebut. Paulus menyebut cahaya Yesus sebagai harta dalam bejana tanah liat, yaitu kekuatan dari Allah di dalam penderitaan.
Paulus menyaksikan harta bejana tanah liat dalam dirinya terjadi ketika dia menderita, namun dia tidak putus. Dia dianiaya tetapi tidak sendirian. Dia disiksa namun tidak binasa. Paulus menyaksikan hidupnya sekalipun menderita tidak membuatnya kehilangan gairah untuk melayani Tuhan. Hal ini karena kekuatan Allah ada dalam dirinya. Melalui kegairahan hidup pelayanannya, orang dapat melihat cahaya Yesus. Dan dengan tetap memelihara dan mengalami perjumpaan dengan Allah saja, maka orang Kristen akan membiarkan cahaya kemuliaan Allah bersinar dalam hidupnya.

Minggu, 16 Januari 2011

Memuliakan Tuhan Dengan Hidup Berkenan Kepada-Nya

(I Samuel 2:18-20,26, Mazmur 148, Kolose 3:12-17:5-10, Luk 2:41-52)
Ketika seseorang sungguh-sungguh memberikan hidupnya kepada Tuhan, hidupnya akan dibentuk menjadi pribadi yang Tuhan kehendaki. Samuel telah dibentuk untuk melayani Tuhan sejak muda belia. Yesus hadir di bait Allah sejak masa remaja-Nya, dan mempersiapkan diri untuk tugas yang diemban-Nya. Ia lebuh dari sekedar menjadi "anak Taurat".
Dalam hal seperti ini peran lingkungan dan orang-orang terdekat juga penting. mereka membentuk pribadi yang Tuhan kehendaki. Orangtua sebagai penuntun bagi teladan iman, harus dapat menunjukan keteladanan tersebut dalam tindakan atau perbuatan yang jelas dan tegas. Jangan seperti Imam Eli yang tidak dapat mengarahkan perilaku anak-anaknya dengan baik dan benar, yang membuat mereka hidup tidak selaras dengan kedudukan mereka sebagai anak-anak seorang imam.
Memberikan hidup kepada Tuhan tidak cukup dengan memuji nama Tuhan dengan mulut belaka. Inti pujian tidak terletak pada suara, tetapi pada hati dan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, dan dalam hubungannya dengan ciptaan yang lain. dalam hal ini, kita bisa melihat Tuhan melalui ciptaan-Nya yang lain, baik sesama manusia maupun alam sekitar kita.
Perlu dibangun kesadaran bahwa relasi dengan ciptaan Tuhan yang lain harus dilandasi karakter yang mendukung. Karakter yang Kristus kehendaki dari kita adalah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan, kesabaran dan pengampunan, berdasar kasih, damai sejahtera dan perkataan Kristus. Amin.

Sabtu, 15 Januari 2011

BERDOA, PERCAYA dan BERPUASA

(Markus 9:14-28)
Dalam kehidupan ini banyak sekali masalah yang terjadi mulai dari masalah keluarga, pendidikan, pekerjaan, ekonomi, sosial dll. Entah bagaimana mengatasinya, mungkin kita akan pergi mencari solusi kepada orang yang kita anggap lebih mampu mengatasi masalah yang kita hadapi dan kita menyampingkan satu hal yang seharusnya kita dahulukan yaitu meminta pertolongan dari Allah. Memang tak ada salahnya meminta pertolongan orang lain namun alangkah baiknya mendahulukan Allah dalam setiap tindakan dengan berkomunikasi dengan Allah lewat doa.

Percaya itulah kata yang sangat mujarab dalam kehidupan ini dan ketika kita meminta pertolongan seseorang yang kita anggap mampu untuk mengatasinya kita menaruh kepercayaan kepadanya dan pada saat masalah tidak terpecahkan kita menjadi kecewa dan menjadi tidak percaya. Hal ini pulalah yang terjadi ketika kita meminta pertolongan dari Allah ketika seolah tidak ada jawaban yang kita dapatkan maka kepercayaan kita pun menjadi luntur terhadap kuasa Allah. Seperti dalam kisah ini tentang seorang ayah yang berusaha agar anaknya dapat sembuh, telah banyak yang ia datangi untuk meminta pertolongan namun tak satu pun yang mampu, sehingga pada saat bertemu Kristus dia pun kehilangan rasa percaya tentang kuasa Kristus, sang ayah meragukan kuasa kristus walaupun ia telah mendengar banyak hal tentang mujizat yang dibuat oleh kristis.
Dalam bacaan ini Yesus Kristus memberikan beberapa tips bagi kita dalam menghadapi masalah hidup yaitu berdoa, percaya, dan berpuasa.

Doa merupakan hal dasar dari kehidupan ini, semua manusia dapat berdoa. Doa merupakan alat komunikasi manusia dengan Allah. ketika kita berdoa kita harus memiliki rasa percaya bahwa Allah memberikan jawaban doa yang terbaik untuk kita. kepercayaan yang kita miliki tidak boleh pudar dan harus di jaga dengan sikap nyata yaitu berpuasa, berpuasa disini bukan saja menahan lapar atau haus tetapi lebih pada kesabaran dan kepercayaan penuh bahwa Allah akan memberikan yang terbaik untuk menjawab doa kita.

Jumat, 14 Januari 2011

FIRMAN TUHAN DAN KEBERUNTUNGAN

(Ul. 30:9-14, Maz 25:1-11, Kol.1:11-14, Luk.10:25-37)


Pada umumnya manusia mendambakan kehidupan yang membahagiakan, menyenangkan, atau "menguntungkan". Keberuntungan, bukankah itu dambaan setiap orang, atau bahkan, semua orang? Kuatnya harapan itu dibuktikan juga dengan banyaknya orang memberi nama diri atau nama anaknya: "Untung, Lucky, Bejo",dll. Memang pengertian untung atau keberuntungan itu seringkali dimaknai berbeda. Ada yang mengaitkan dengan kekayaan, kedudukan atau pangkat, ada pula yang mempersepsikan sebagai kebahagiaan cinta,dst.

Keberuntungan, dikaitkan dalam firman Tuhan dan kekehidupan bersama Tuhan, jauh lebih berharga ketimbang pandangan-pandangan seperti di atas. Keberuntungan hidup di dalam Allah adalah keberuntungan yang bersifat komprehensif, meliputi semua perkara yang didamba manusia. Keberuntungan itu pertama-tama dan terutama adalah hidup dalam persekutuan dengan Allah hidup dalam kasih karunia Allah. Hidup itu akan membawa manusia kepada kehidupan kekal bersama Allah didalam terang kerajaan-Nya. Sebagai penjelasan kita dapat menyitir firman Allah: "Apa gunanya seseorang memperoleh harta dunia, tetapi hilang jiwanya?".

Namun demikian, keberuntungan hidup tidak hanya akan dinikmati kelak sesudah kematian. Keberuntungan hidup juga dapat darasakan sekarang. Wujudnya memang tidak selalu kelimpahan harta benda dunia. Tetapi, mungkin cukup "berkecukupan" saja. Bukan juga hidup yang "bubas masalah", atau bahwa orang akan dapat menyelesaikan masalah tanpa masalah. Mungkin saja, masalah dan keterbatasan akan tetap ada. Namun, dibalik semua itu, kita yang setia kepada Allah dan hidup dalam persekutuan yang akrab dengan Allah, akan selalu dipenuhi damai sejahtera, yang melampaui segala akal (Filipi 4:7) . Hati dan pikiran orang itu akan tetap berada dalam Kristus. Bukankah itu keberuntungan yang paling menguntungkan? hati dan pikiran yang terpelihara dalam tuhan akan membuat manusia mampu mengucap syukur dalam segala keadaan. Itu pun sebuah keberuntungan, ketimbang orang yang hidup dalam ketidakpuasan dan sungut-sungut. Bukankah hidup dalam ucapan syukur kepada Tuhan akan menjadi kesaksian yang indah bagi orang lain? hidup yang demikian, hidup dalam keberuntungan akan menolong umat Allah menghasilkan buah yang manis dalam hidup kita. Amin

Kamis, 13 Januari 2011

SUKACITA KEMENANGAN ORANG PERCAYA DI AKHIR ZAMAN

(Daniel 12:1-3, Maz 16:1, Ibrani 10:11-14,19-25, Markus 13:1-8)

Pembicaraan tentang penghakiman terakhir selalu menimbulkan kengerian

dan ketakutan. Hal ini tidaklah mengherankan. Kita melihat ada begitu

banyaknya tafsiran yang menakutkan tentang penafsiran yang menakutkan

tentang penghakiman akhir zaman. Nuansa ketakutan dan kengeriannya

begitu kuat sehingga jarang ada orang yang menantikan terjadinya akhir

zaman.

Alkitab sebenarnya tidak bermaksud membicarakan detail peristiwa yang

akan terjadi di akhir zaman. Suatu yang pasti bahwa penghakiman akhir

itu akan terjadi, dan pada saat itu Allah akan menjadi hakim yang adil

bagi manusia dan tingkah laku dalam kehidupannya. Hidup yang penuh

kesukacitaan dekat dengan Allah, kebahagiaan hidup yang mengandalkan

Allah, dan hidup yang "saling", semua ini harus menjadi perhatian

dalam kehidupan umat ketika menantikan akhir zaman. Cara hidup dalam

penantian seperti itulah yang harus menjadi pusathidup orang beriman.

sebab jalan keselamatan telah diberikan melalui pengorbanan kristus,

sehingga kita dengan leluasa dapat menghadap Allah di dalam

kekudusan-Nya. korban kristus juga membeikan pembaharuan sehingga

hidup kita menjadi lebih baik, lebih setia dalam melakukan perbuatan

baik, dan lebih dekat dengan Allah.

Mari kita menghayati berita Firman Allah itu, sehingga hari

penghakiman terakhir tidak menjadi momok, tetapi menjadi penantian

yang menyukakan. menyukakan sebab pada saat itulah orang yang

mengandalkan Allah alan melihat kemuliaan Allah. Orang yang setia akan

merasakan kemenangan dalam Allah.
Amin.

Rabu, 12 Januari 2011

Allamulah Allahku

Rut 1:7-18
Rut dan Naomi
1)Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. 2) Nama orang tua itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi, dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana. 3) kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. 4) Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam disitu kira-kira sepuluh tahun lamanya. 5) Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. 6) Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.
7) Maka berangkatlah ia dari tempat tinggslnya itu, bersama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda, 8) berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; Tuhan kiranya menunjukan kasih-Nya kepadamu seperti yang kamu tunjukan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; 9) Kiranya atas karunia Tuhan kamu mendapat perlindungan, masing-masing dirumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka mengangis dengan suara keras 10) dan berkata kepadanya: " Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu." 11) tetapi Naomi berkata: " Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti? 12) Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, 13) masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan Tuhan teracung terhadap aku?" 14) menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, teteapi Rut tetap terpaut padanya. 15) Berkatalah Naomi:" Telah berpulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu." 16) Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab kemana engkau pergi, kesitu jugalah aku pergi, dan dimana engkau bermalam, disitu jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku Allahmulah Allahku; 17) dimana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!" 18) Ketika naomi melihat bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadannya.
=====================================================================================
Perkataan Rut yang terkenal itu kerap kita dengar pada upacara-upacara pernikahan di barat. Padahal sebenarnya perkataan ini diucapkan oleh seorang janda muda yang berduka kepada ibu mertuanya, Naomi. Rut berkata, "kemana engkau pergi, kesitu jugalah aku pergi, dan dimana engkau bermalam, disitu jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku Allahmulah Allahku" (Rut 1: 17). Rut tidak memiliki ikatan budaya maupun ikatan hukum dengan Naomi, yang juga seorang janda yang hidup sendirian. Tidak akan ada seorangpun yang akan menyalahkan Rut bila ia memilih untuk tetap tinggal bersama kaumnya di Moab. Namun, Rut telah berketetapan untuk pergi bersama mertuanya ke Yudea dan menjadi pengikut Allah Naomi. Ia menyandarkan harapan kepada Allah. Ia telah memiliki Seseorang yang senantiasa dapat diandalkan dalam setiap keadaan hidupnya.
Ketika mereka berdua sedang menghadapi segala situasi baik suka karena anak-anak Naomi mendapat tunangannya, maupun masa susah, karena sekarang mereka tinggal berdua saja, tanpa harta, tanpa warisan, tanpa perlindungan, namun Rut melihat rasa duka itu dengan penuh syukur. Ungkapan syukur bukanlah suatu bentuk penyangkalan atas kesulitan. cara itu justru menolong Rut dan kemudian Naomi sendiri untuk melihat situasi tersebut dengan cara pandang Allah, yakni sebagai kesempatan untuk merasakan kuasa dan kasih-Nya.
Dalam bukunyam The Fishermen and His friend, Louis Albert Banks menceritakan tentang dua pelaut yang ditugaskan untuk mengawasi kapal-kapal yang berlayar jauh ke tengah laut. Sepanjang malam itu badai mengamuk sehingga ombak melemparkan satu orang dari mereka ke laut. Anehnya, pelaut yang tenggelam justru yang berada di ruang kapal yang terlindung sedangkan yang selamat adalah pelaut yang berada di ruang terbuka dan dekat dengan laut. Apa yang terjadi? Karena orang yang tenggelam itu tidak berpegangan.
Karena itu, seseorang yang mengatakan bahwa "Allah itu adalah Allahku, maka sesungguhnya ia ingin mengatakan bahwa Dia-lah "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku yang kupercayai"(MaZmur91:2).